Membunuh Rindu!

Aku tiba di kotamu lima belas menit sebelum pukul 8 malam. Selinting tembakau segera terbakar, mengiringi asap yang terhembus bersama udara yang keluar dari paru-paru. Pesanmu baru tiba, lalu kubaca. Kau menuju kemari. Aku duduk cemas sambil menerka baju apa yang tengah kau pakai. Untuk menutupi tubuh mungilmu yang kubayangkan menggigil karena angin malam. Tak cukup itu, mungkin sebelum berangkat kau menimbang-nimbang jaket atau sweater apa yang hendak kau kenakan. Musuhmu malam ini adalah dingin. Siapa yang tak terima, bahwa kemarau tahun ini membawa dingin yang amat. Tulangmu tentu mengeluh. Tapi kuharap niat menemuiku akan membuatmu bergemuruh. Sama seperti aku saat ini. Juga saat sebelum ini. Saat aku menimbang akankah aku menemuimu saja atau mengingkari rindu yang kian lama kian tercipta. Sampailah aku hari ini. Hari dimana dulu sengaja ingin kita ciptakan. Bersama surya dan harapan, kita mengarungi bulan demi bulan untuk sekedar menuntaskan rindu. Continue reading “Membunuh Rindu!”

Rindu yang terlarang.

imagesAdakah yang melarang rindu? Ku pikir tidak ada, kecuali kamu, Nona. Padahal aku sudah pernah bilang padamu, bahwa rinduku sama sekali tak mengharap balasan atau penerimaan. Cukup tersampaikan saja. Dan itu masih membuatmu melarangku untuk merinduimu? Juga pernah ku bilang, rinduku sederhana saja, cukup berbincang denganmu. Karena dengan begitu aku tau kamu baik-baik saja. Tak lebih. Continue reading “Rindu yang terlarang.”

Kumpulan Rindu

Pengantar rindu/

Dalam bagian-bagian yang menyertai bagian ini, semua merupakan sebuah pelampiasan rinduku pada seorang terkasih yang senantiasa bermukim di dalam relung jiwa ini. Walaupun tak seperti biasanya, senyuman-senyuman tak lagi menghiasi hari-hari lamaku di kota ini, namun slalu kurasakan hadirnya dekapan mesra kasihnya hingga mampu hangatkanku di malam dingin yang siap menyergap tubuhku.

Ya, di masa kesendirian ini, tak ingin rasanya diriku hanyut dalam renungan, namun tak ingin pula melupakan semua apa-apa yang pernah kita lalui di sini, semasa Mahasiswa. Di tengah ombang-ambing kebingungan akan keharusan memilih sebuah keputusan, akhirnya bisa ku memihak pada sebuah jalan untuk berusaha terlihat tegar namun tetap menyimpan rindu itu. Salah satunya lewat tulisan ini.

1/

Dalam kesepian itu

Kurasakan hadirnya dirimu

Mengenal

Lalu mencinta…

2/

Berdiri kini

Ku di tengah hamparan pasir berbadai

Berusaha mencari ketenagan

3/

Ya…

Memang rindu ini

Yang kan menghujam jantungku

Sedikit demi sedikit…

Tapi tak kan kubiarkan ku terkapar

Demi rindu yang terpendam itu

Bangkitku tuk menjemputmu

Di samudera penantianku

4/

Dan…

Kubiarkan rasa rindu ini berkembang

Hingga menyentuh langit-langit hatimu

5/

Dalam segenap kepastian

Menanti datangnya hari

Dimana kan ku kecup keningmu

Lalu kuucapkan janji setia

Dan jagamu sampai waktuku tiba

6/

Samudera luas kian meluas

Melahap semua apa yang menghadangnya

Demikian pula rindu ini

Yang kian merebak

Meresap ke setiap sel

Hingga buatku sulit tuk menghela sedikit nafas

Tanpa merinduimu

7/

Bahkan…

Menjadi susah bagiku

Tuk sekedar

Mengatakan tidak kurasa rindu itu

Agar terlihat ketegaran padaku

 

Sampai saat ini saya belum tau apakah kalimat-kalimat di atas merupakan sebuah puisi atau bukan. Namun terlepas dari sebuah anggapan ya atau tidak, tulisan di atas merupakan sebuah usaha untuk meyakini bahwa rindu yang semakin dalam akan membuat saat-saat bertemu nanti akan semakin bergairah. Kurang lebih sama seperti lirik lagu Rhoma Irama “semakin lama kita berpisah, semakin mesra saat berjuma…” berjudul Malam Terakhir. Namun secara naluriah, saya sebagai seorang lelaki tak ingin terlihat cengeng di depan khalayak ramai. Dibalik ketegaran yang sedikit dibuat-buat, saya melampiaskan ke-cengeng-an saya melalui tulisan ini. Semoga bisa menghibur kawan-kawan pembaca yang mungkin kini kondisinya seirama dengan saya.

Salam.