Senja dan cerita yang mengawalinya.

Aku dan istriku, Senja, nampaknya memang benar-benar berbeda. Dalam segala hal, tak terkecuali dalam cinta. Beberapa kali kami saling meradang karena itu, dan selalu diakhiri dengan sesal bersama air mata sebelum tubuh kami saling menindih. Senja, seorang wanita yang terbiasa melakukan pekerjaan seperti umumnya, dan mejanya selalu rapi. Pikirannya tak pernah sempit kalau sudah berbicara tentang rencana, dan tentu dilengkapi dengan beberapa kekhawatiran tentang masa depan. Baginya, mungkin, dunia tak lebih dari perjalanan yang sedang bermain dengan peluang matematika. Sebuah perjalanan akan dijalani oleh beberapa orang yang hidup di waktu yang berbeda. Dan hidupnya kini, dia meyakini sudah ada yang menjalaninya sebelum ia. Sebuah miniatur dariĀ reinkarnasi. Aku tak pernah menyalahkan pandangan Senja mengenai hidup. Ia selalu nampak serius dalam berbagai hal. Dan itu adalah sempurna versi Senja.

Kekurangan Senja ialah tak begitu tertarik dengan seni. Sejak pacaran, aku tau Senja tak begitu memahami puisi, walaupun dia suka saat aku buatkan puisi untuknya. Bahkan aku curiga dia tak pernah bisa bernyanyi, dan seharusnya ini tak boleh ku sampaikan, atau dia akan marah besar kepadaku. Kesimpulanku ini aku benarkan setelah beberapa kali Senja menolak saat aku memintanya untuk bernyanyi. Dulu, sikap Senja yang seperti ini membuatku jengkel. Bahwa Senja tak memahami puisi juga akhirnya aku yakini setelah dia marah besar saat aku menunjukkan beberapa bait puisi padanya. Dan itu hampir mengakhiri hubungan kami. Senja selalu mengaitkan puisi yang ku buat dengan beberapa wanita masa laluku yang pernah ku kisahkan padanya. Sejak saat itu aku mulai menyembunyikan beberapa kisah tentang wanitaku sebelumnya. Wanita-wanitaku sebelum Senja, katanya, berhasil membuat angka 3-0 untuk kekalahan Senja.

Tetapi di atas segalanya itu, yang membuat aku memilihnya, Senja adalah wanitaku yang tidak pernah mematahkan hatiku.

*** Continue reading “Senja dan cerita yang mengawalinya.”

Mala.

Ada sebaris senyum yang hingga saat ini masih terbayang dalam ingatanku. Senyum manja bersama rentetan senja yang tak juga berhasil ku cerna. Siapa lagi si empunya senyum itu, kalau bukan kau, Mala. Di sepanjang jalan menuju pulang, bersama kayuhan kecilmu, aku berakhir. Aku berakhir merindukanmu. Kau berhasil memalingkan anganku, dari sebuah senja yang kupuja. Senja yang masih lugu, membasuh lembut punggungku. Imajiku terbang, mungkin belaimu akan menyempurnakan senjaku, lalu sebaris senyummu akan telak membunuhku.

***

Malam masih malas untuk beranjak. Rintik embun juga masih melekat pada helai daun yang melengkung, memberinya jalan untuk terjatuh. Menyapa bumi. Bukankah semua akan berserah pada tanah? Terserap dan musnah. Sedari malam, aku tak bisa memejam. Lama aku terduduk, jemariku dengan malas meraih sebotol bir yang sudah lama berdiri di ujung meja. Bir yang tadinya dingin. Juga sebatang tembakau tak luput dari raihanku. Jantungku berdetak teratur. Mataku berat kurasa. Seketika sekelebat wajahmu mengisi kesepianku. Oh Mala, tak bisakah sedetik saja kau bebaskan aku dari belenggu rindu. Hingga saat ini, senyum manismu masih saja membayang dalam langit-langit kepalaku. Ia berlari, memutar, lalu jatuh ke dalam pelukanku. Lalu malam-malamku menjadi riuh oleh lincah gerakmu.

Continue reading “Mala.”